Gengsi Gede-Gedean


Sorry friend, ini bukan judul sebuah sinetron atau film Indonesia. Judul ini lebih pas sebagai ilustrasi pemandangan yang menyedihkan kalo kita melihat nasib,kita, teman, kakak, ataupun adik yang barusan aja jadi Maba alias mahasiswa baru. Bener, setelah mereka ikutan UMPTN, tapi hasilnya nggak begitu memuaskan. Lho emangnya kenapa? Ya, disamping mereka ada yang nggak lulus ujian itu, ada juga yang sebagian kecewa dengan penerapan “jalur khusus”. Para pejabat dari ITB, UGM, Undip dan UI mengemukakan secara terbuka adanya jalur khusus penerimaan mahasiswa baru, dengan memasang tarif mulai Rp 15 juta hingga Rp 250 juta, yang diberikan sebelum calon mahasiswa mengikuti tes standardisasi akademis (suaramerdeka.com, 22 Juni 2003). Paling nggak, jalur inilah yang bikin mereka, yang nggak pinter-pinter banget atau bahkan emang bodo, bisa masuk PTN favorit. Hasilnya? Yang pinter tapi kalo nggak punya fulus bisa mampus. Kasihan emang
Selanjutnya, abis mereka ‘dihajar’ dengan adanya penerapan jalur khusus itu. Nyatanya bagi yang bisa masuk PTN ataupun PTS, ujian mereka nggak berhenti disitu. Sebab di awal start sebagai Maba, mau nggak mau mereka harus melalui barisan kakak-kakak senior mereka yang galak, superior dan ada juga sih yang sok pahlawan. Pendeknya, mereka harus digembleng di Ospek alias orientasi pengenalan kampus atau apapun namanya. Wiiih serem, kalo diceritaiin.
Emang untuk jadi mahasiswa nggak gampang, paling tidak harus melalui beberapa, hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan (jielee..kayak pelajaran PPKn ya). OK, sekarang kita mo nanya dengan jujur buat kamu yang emang ketrima di perguruan tinggi. Apa bener kamu mau jadi mahasiswa beneran, atao emang kamu kuliah di situ buat jaga gengsi? Upss, sorry deh, bukannya kita negative thinking lho. Soalnya kalo emang kamu mo jadi mahasiswa beneran, bakalan menyandang tugas yang nggak ringan. Masyarakat udah terlanjur menggolongkan mahasiswa sebagai komunitas perubah alias agent of change. Coba aja kita liat, siapa yang banyak berdemonstrasi menuntut perubahan di negeri ini kalo bukan mahasiswa. Makanya, kalo kamu kuliah  cuman sekedar jaga gengsi, mending perbaiki dulu deh niat kamu, sebelum kamu terusin langkahmu.
Tunjukin Rasa Lo!!!
Eits…jangan salah lagi, ini bukan promo sebuah iklan lho, tapi begini sobat, kamu khan muslim. Nah, tunjukin dong rasa empati kamu pada saudara-saudaramu yang karena berbeda nasib aja, mereka kagak bisa kuliah kayak kamu. Bukan apa-apa, gimana-gimana mereka juga butuh kecerdasan atau paling nggak mereka butuh ilmu pengetahuan buat masa depan mereka. Kalo di masa kini, pendidikan tinggi hanya bisa dinikmati oleh kaum “the have”, maka sudah pasti, masa yang akan datang hanya milik kaum borju juga. Kejam khan?
Udah saatnya kamu ngeh, kalo rasa gengsi kamu keterusan, diri kamu bakalan rugi dan orang lain bisa jadi bakalan kena getahnya juga. Bisa membayangkan nggak sih, gimana manusia yang hidupnya penuh dengan rasa gengsi. Apalagi kalo urusan gengsi itu menyangkut soal kuliah, pendidikan atau sejenisnya. Wuih, dijamin efeknya gede banget buat kehidupan seseorang. Nggak percaya? Jangan dicoba.
Bukannya kita nakut-nakutin, ini fakta dan udah terjadi di masyarakat kita. Mustinya, tunjukin dimana sebenarnya kamu harus kuliah atau sekolah. Kalo emang harus di PTS, toh ada PTS yang nggak kalah mutunya dengan PTN. Jadi  kamu harus berani menerima tantangan berikutnya. Seperti tadi udah disebutkan, mahasiswa atau anak kuliahan identik dengan orang yang berjiwa dinamis, penuh dengan perubahan. Itu juga tak lepas dari fisik mahasiswa yang emang masih remaja.
Remaja sukanya pengin diakui keberadaannya kalo lagi gaul ama teman sebayanya. Kalo teman sebayanya pada rame ngobrol soal ponsel apa yang lagi ngetrend, model rambut gimana yang lagi ngetop, film apa yang lagi favorit. Maka boro-boro teman remaja yang dulunya hanya suka buka-buka buku pelajaran, sekarang jadi sibuk buka majalah dan koran yang isinya mengupas soal remaja dan tetek bengeknya. Dijamin, anggaran uang jajannya jadi bertambah buat koleksi majalah macam Aneka, Gadis, Kawanku de el el.
Sobat, yang jelas kalo untuk urusan gengsi, rasa malu jadi nomor satu. Malu kalo sampe temennya nyengir, ngeliat dirinya nggak nyambung kalo diajak ngomong siapa sih artis yang membintangi film “American Pie” atao siapa sih sutradara film “Tomb Rider” yang dibintangi ama Angelina Jolie yang di film itu berperan sebagai Lara Croft si wanita perkasa. Teman remaja yang suka jaga gengsi akan malu, kalo teman gaulnya udah pake ponsel yang ada cameranya, nada deringnya pake poliponic, dan warna screennya bisa gonta-ganti. Sementara punyanya handphone jaman baheula, itupun juga warisan dari ortunya. Maksud hati sih pengin cepetan ganti handphone tapi apa daya fulus tak punya. Kasihan deh lo!
Tampilan sih boleh aja rapi jali, nggak dilarang kamu punya ponsel, mau ngomongin tentang film yang lagi diputar di bioskop 21 juga boleh. Tapi kudu dibarengi dengan pemikiran yang oke juga dong. Malu atuh, kalo ada remaja Islam apalagi anak kuliahan, tapi nggak tahu gimana caranya sholat. Konyol juga kalo masih nanyain gimana caranya wudhu. Tapi beginilah realita yang kayaknya pantas juga bagi kita untuk prihatin. Betapa banyak teman remaja yang nggak mengisi otaknya dengan pemikiran Islam yang mantap. Maklum, rata-rata remaja sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat hiburan, atau sekadar mengisi waktu luang dengan pembicaraan yang miskin makna. Menyedihkan emang.
Sobat muda, tradisi para sahabat, kaum muslimin generasi pertama, adalah banyak berpikir. Sebab, kalo kita jadi ahli pikir, insya Allah bisa menjalani hidup ini dengan benar. Saking pentingnya aktivitas berpikir ini, para sahabat sampe mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata: “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir.” (dalam kitab Ad-Durrul Mantsur, jilid II, hlm. 409).
Memang sih, aktivitas berpikir saat ini sangat langka dilakukan anak muda. Jangankan anak muda, wong tuo aja udah pada males mengoptimalkan peran otaknya. Padahal kalo otak kita digunakan, itu sama dengan mengasah pedang, akan kian tajam. Justru kalo otak dibiarin nganggur, alias nggak pernah diajak untuk mikir, apalagi mikir yang berat-berat, Insya Allah, dijamin bakalan tumpul binti beku.
Aduh, sayang banget lho. Padahal, tentu aja, kemampuan otak kita bisa deh diaduin sama produk keluaran Intel, Pentium 4. Prosesor ini sebenarnya masih kalah jauh dengan kemampuan otak kita, sebab Allah Swt. menciptakannya untuk bisa berpikir dan menganalisa dengan mantap. Entah berapa juta giga, space yang Allah berikan untuk otak kita. Inilah pemberian Allah yang kudu kita syukuri. Itu sebabnya, sungguh hueran jika masih ada manusia yang ogah untuk memanfaatkan kinerja otak dengan optimal. Utamanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan Islam dan kehidupan ini.
PeDe, Gede-Gedean!!!
Sobat remaja, kalo kamu rajin baca buku-buku tentang sejarah perkembangan Islam. Insya Allah, kamu akan mendapatkan kalo Islam tuh hebat banget di masa lalu. Jempolan di saat Eropa dan negara lainnya terbelakang. Kayaknya banyak dari kita-kita yang nggak ngeh dengan sejarah Islam yang gemilang banget. Abis kita kebanyakan baca buku-buku yang sebetulnya nggak terlalu berpengaruh besar buat pengetahuan Islam kita. Informasi yang kita dapatkan lebih banyak berita seputar kaum seleb. Sampe obrolan di antara kita pun nggak jauh dari urusan gosip selebritis, sinetron, film, musik, dan seabrek info sejenis. Akibatnya kita jadi males mikir yang berat-berat. Kayaknya, otak kita jadi turun ke dengkul. Karena nggak pernah dipake mikir serius dan bermanfaat.
Nah, ngomong-ngomong soal kejayaan Islam, kita patut bersyukur. Karena kita ditakdirkan oleh Allah Swt. untuk menjadi seorang muslim. Islam itu hebat lho. Mampu memimpin dunia ini selama 14 abad tanpa henti. Sejak Rasulullah saw. memimpin dunia ini, sistem kehidupan Islam baru ambruk tahun 1924. Dihancurkan oleh Musthafa Kamal at-Taturk, seorang Yahudi Duhamah, yang bapaknya nggak jelas siapa. Saat itu ia bekerjasama dengan Inggris.
Peradaban lain selain Islam? nggak level deh. Sosialisme, termasuk Komunisme cuma bisa bertahan sekitar 70-an tahun. 1917 Revolusi Bolshevic, awal tahun 90-an ambruk. Sampe-sampe grup rock sekaliber Scorpion bikin lagu Wind of Change yang ngetop itu. Mungkin sebagai bentuk “syukuran” kali ye?
Termasuk yang lagi sekarat sekarang ini adalah Kapitalisme. Meski tampak sehat, tapi sistem kehidupan yang mengatur kita saat ini udah keropos dan udah siap-siap akan istirahat dengan tenang. Kita siapin aja kuburannya. Itu sebabnya, kita songsong kebangkitan Islam. Kita sambut dengan hangat. Insya Allah, Islam akan menghancurkan semua ideologi buatan manusia yang udah bikin sengsara dalam kehidupan ini.
Sobat muda, siapa lagi penjaga kebangkitan Islam kalo bukan kamu yang masih punya jiwa muda, semangatnya masih fresh untuk menantang kebangkitan ideologi lain selain Islam. Di jaman kejayaan Islam, siapa yang berperan terhadap perubahan ? juga kaum mudanya, dulu ada Ali bin Abi Thalib, Musab bin Umeir, Utsman bin Affan, Salman Al Farizi, dll. Dulu emang mereka nggak makan bangku kuliah kayak kamu sekarang, tapi semangatnya sebagai jiwa muda tentu aja ada dalam diri mereka.
So, apalagi kalo kamu sekarang kuliah, bukan saja tenaganya yang dibutuhkan tapi juga otaknya. Jangan tampangnya aja intelek tapi otaknya tembelek. Coba liat, Islam telah melahirkan ilmuwan di berbagai bidang. Pernah dengar nama al-Khawarizmi? Nah, inilah penemu salah satu cabang ilmu matematika, Algoritma. Diambil dari namanya, al-Khawarizmi. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi (770-840) lahir di Khwarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (sekarang Uzbekistan) tahun 770 masehi. Pengaruhnya dalam perkembangan matematika, astronomi dan geografi tidak diragukan lagi dalam catatan sejarah. Pendekatan yang dipakainya menggunakan pendekatan sistematis dan logis.
Beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa latin pada awal abad ke-12, oleh dua orang penerjemah terkemuka yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah aritmatikanya, seperti Kitab al-Jam’a wal-Tafreeq bil Hisab al-Hindi, Algebra, Al-Maqala fi Hisab-al Jabr wa-al-Muqabilah, hanya dikenal dari translasi berbahasa latin. Buku-buku itu terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh universitas-universitas di Eropa. Buku geografinya berjudul Kitab Surat-al-Ard yang memuat peta-peta dunia pun telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris.
Selain beliau, masih ada nama yang patut disebut sebagai penyumbang untuk dunia. Hmm.. bagi kamu yang udah ngelotok ngapalin nama-nama ilmuwan Kimia dari Barat, kayaknya kudu malu deh. Sebab, ada masternya yang diakui oleh dunia. Dialah Jabir Ibn Hayyan.
Ide-ide eksperimen Jabir sekarang lebih dikenal sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, non-metal, dan penguraian zat kimia. Di abad pertengahan karya-karya beliau di bidang ilmu kimia–termasuk kitabnya yang masyhur Kitab al-Kimya dan Kitab al-Sab’een, sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Terjemahan Kitab al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh orang Inggris bernama Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Buku kedua (Kitab as-Sab’een), diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona. Lalu tak ketinggalan Berthelot pun menerjemahkan beberapa buku Jabir, yang di antaranya dikenal dengan judul Book of Kingdom, Book of the Balances, dan Book of Eastern Mercury.
Kamu suka mainin bola dunia, alias globe? Nah, inilah orang yang berhasil membuatnya pertama kali. Namanya al-Idrisi, orang Barat menyebutnya Dreses. Al-Idris (1099-1166) dikenal oleh orang-orang Barat sebagai seorang ahli geografi, yang telah membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400 kilogram untuk Raja Roger II dari Sicilia. Globe buatan al-Idrisi ini secara cermat memuat pula ketujuh benua dengan rute perdagangannya, danau-danau dan sungai, kota-kota besar, dataran serta pegunungan. Beliau memasukkan pula beberapa informasi tentang jarak, panjang dan ketinggi
Sesuatu Yang Terindah
Sobat muslim, bicara tentang masa lalu Islam, adalah sesuatu yang terindah. Orang Barat yang berpikir obyektif bakalan muji-muji Islam lho. Betapa hebatnya al-Quran yang bisa membimbing manusia menjadi mulia.
“Tetapi hendaklah diingat, bahwa Quran memegang peranan yang lebih besar terhadap kaum muslimin daripada Bibel dalam agama Kristen; ia bukan saja kitab suci dari kepercayaan mereka, tetapi juga merupakan text-book dari upacara agamanya dan prinsip-prinsip hukum kemasyarakatan. Demikianlah, setelah melintasi masa selama 13 abad Quran tetap merupakan kitab suci bagi seluruh Turki, Iran, dan hampir seperempat penduduk India. Sungguh, sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa kini…” (E. Denisen Ross, seperti dikutip dalam buku “Kekaguman Dunia Terhadap Islam”)
Coba, orang Barat aja mengagumi al-Quran, masak kita males-malesan hanya untuk sekadar baca? Padahal, di dalamnya terkandung banyak pelajaran, termasuk menuntun kita untuk bisa menjadi yang terbaik dengan ilmu pengetahuan. Bener lho.
Itu sebabnya, W.E. Hocking berkomentar, “Oleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikata­kan, bahwa hingga pertengahan abad ke tiga­belas, Islam-lah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461)
Kita seharusnya ‘ngiri’ lho, sama Imam Syafi’i yang pada usia 7 tahun udah hapal al-Quran 30 juz. Insya Allah, itu adalah contoh bagaimana membiasakan otak kita bekerja keras. Makin sering digunakan, otak kita makin oke. Para sahabat Rasulullah, utamanya yang termasuk khulafa ar-Rasyiddin, semuanya mujtahid mutlaq. Artinya, Abu Bakar ra, Umar bin Khaththab ra, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib adalah orang-orang yang ahli pikir, alias mufakkir.
Kalo jadi mahasiswa kelakuannya nggak beda ketika masih SMA. Sukanya kalo ada PR, datangnya pagi buta, bukannya pengin bantuin tukang kebon sekolahan, tapi buat nyontek PR-nya temen. Kalo jadi mahasiswa, masih aja berpikir yang rendah-rendah alias yang nggak berkualitas. Walah, mendingan gantung aja otak tuh di cantolan baju.
Friend kita manusia, beda dong dengan monyet yang suka loncat sana, loncat sini, karena emang dia nggak punya otak untuk berpikir dan emang udah itu pekerjaannya sebagai monyet. Lha kalo kamu mahasiswa, masih aja nggak mau ikut berpikir tentang nasib generasi muda yang udah teler kena suntikan modernisasi jaman. Nggak mau diajak berpikir gimana supaya umat muslim bisa lepas dari intervensi kaum non muslim. Lalu, apa bedanya kamu dengan yang loncat-loncat tadi? (he..heee)
Bukannya sulit apalagi mustahil, kalo emang kamu udah jadi mahasiswa dan bercita-cita mao jadi ilmuwan macam al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Jabr, al-Idris, dll. Mau jadi astronut, insinyur, arsitektur, direktur. Tapi satu pesen kita, kalo sekarang jadi mahasiswa, buang deh rasa gengsi kamu. Gengsi kamu bisa kuliah di Perguruan Tinggi yang bergengsi, nggak bisa membawa kamu jadi mahasiswa muslim yang berkualitas dan berdaya tahan kuat (emang … baterai). Maksudnya yang dibutuhkan di jaman kiwari kayak begini, bukan hanya mahasiswa yang sekedar menggeluti ilmu perkuliahan tapi dia juga harus memiliki tsaqofah Islam yang mumpuni. Sebab udah banyak, emang orang yang pinter. Tapi orang pinter dan nggak keblinger bisa dihitung dengan jari tangan dan jari kaki alias sedikit sekali. Weleh !
Saatnya Berubah !!!
Sobat, kita emang bukan Megaloman atau Hulk, kalo ada musuh atau mau bertarung baru aja jadi Hulk si manusia hijau. Bukan, bukan itu maksudnya. Berubah disini maksudnya, kita sebagai generasi penerima estafet kebangkitan Islam udah saatnya berubah. Berubah dari yang sukanya ngedugem jadi rajin ke masjid, bukannya demenin bedug masjid, tapi emang mau jadi aktivis masjid. Yang cewek berubah jadi wanita muslimah menutupi tubuhnya dengan jilbab dan kerudung. Nggak usah takut, nggak laku nikah atau takut nggak dapat pekerjaan kalo berjilbab, sekarang bukan jamannya takut mikir gituan. Sebab yang ngantri cari istri sholihah juga buuuanyak, ya nggak Mas? (idih…ada yang mesam-mesem kesindir neeh?)
Untuk berubah jadi orang baik nggak nunggu rambut ubanan, gigi udah ompong semua baru kemudian pengin tobat dari kebobrokan. Justru kalo sekarang kamu udah nyadarin bahwa yang selama ini kamu lakuin salah bin maksiat, kamu masih untung, sebab di itung-itung umur kamu masih muda, trus masih banyak juga yang bisa kamu lakuin buat masa depan kamu, dan tentu masa depan Islam juga dong. Islam sendiri udah ngasih tahu, setidaknya kalo kita mati, mati dalam keadaan sebagai Muslim :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan takwa sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan Islam” (TQS. Ali Imron )
Bahagia itu Sederhana
Kebahagiaan itu sederhana..
Bila Kekayaan tidak mampu membahagiakan semua orang kaya, dan kemiskinan tidak mampu menyedihkan semua orang miskin, maka..kebahagiaan itu PASTI Kebahagiaan itu sederhana..
Kebahagiaan bukanlah suatu kebetulan, bukanlah sebuah kejadian tidak terduga dan bukan pula sebuah kecelakaan..tetapi kebahagiaan adalah sesuatu yang harus anda putuskan..
Kebahagiaan itu sekarang, menunggu untuk merasa berbahagia nanti adalah menunda untuk berbahagia, yang juga berarti memperpanjang masa untuk bersedih..
Kebahagiaan itu sesuatu yang tidak bersyarat, karena kebahagiaan sebetulnya adalah sebuah hak yang diperintahkan untuk dimenangkan..
Jadi apakah syarat bagi kebahagiaan anda??apakah keberhasilan yang sedang anda upayakan sekarang itu adalah syarat bagi kebahagiaan anda??apakah penghapusan keluhan-keluhan anda adalah kunci pembuka kebahagiaan anda?? bukanlah sesuatu yg bersifat spektakuler dan ekstrim..
Perhatikanlah :
Keberhasilan karir, pangkat, derajat, kekuasaan, ketenaran dan kekayaan materi telah gagal membuktikan dirinya sebagai kunci pembuka kebahagiaan..
Seperti halnya kemiskinan, ketakutan, kelemahan, ketertindasan pun tidak mampu menghalangi seseorang untuk berbahagia..tidak mampu mencegah orang untuk merasakan kesyukuran syahdu atas hal-hal kecil yang mereka miliki..
Kebahagiaan itu mengambang diatas perubahan..
Berhentilah mengeluhkan perubahan-perubahan yang terjadi disekeliling anda..berhentilah menyalahkan keadaan diseliling anda atas ketidakbahagiaan diri anda..
Ingatlah bahwa sumber utama ketidakbahagiaan anda adalah penolakan anda atas apa yang terjadi.
Anda memang tidak akan mampu merubah apa yang telah terjadi..tetapi anda tetap berkuasa penuh atas apa yang dapat anda lakukan untuk menjadikan apapun yang terjadi sebagai alasan bagi upaya-upaya terbaik anda..
Bila anda mensyaratkan kebahagiaan anda kepada satu keadaan, maka anda pasti tidak akan bahagia pada keadaan yg lain.Karena Perubahan adalah nama dari perjalanan hidup anda, Jadikanlah anda mampu merasakan kebahagiaan dalam keadaan apapun.
Dia yang selalu mencari kebahagiaan diluar dirinya, akan selalu merasakan bahwa kebahagiaan adalah milik orang lain. Maka lihat dan carilah kebahagiaan dalam diri anda, Orang lain tidak akan mampu membantu anda untuk berbahagia kalau anda sendiri adalah orang pertama yang meragukan hak anda untuk merasa berbahagia dan menolak apapun yang ada pada diri anda sebagai alasan untuk bersyukur..
Kebahagian itu dekat dengan rasa syukur..
Jika anda adalah orang yang selalu pandai bersyukur, menerima keadaan yang Alloh tetapkan atas diri anda sebagai sesuatu yang terbaik yang Alloh gariskan untuk diri anda..maka anda akan mendapati diri anda berbahagia dalam keadaan apapun..
Namun jika anda adalah orang yang selalu menolak keadaan yang menimpa anda, terlebih manakala keadaan itu tidak sesuai dengan harapan anda..maka anda akan mendapati diri anda sebagai orang yang sulit untuk berbahagia..yang juga berarti anda adalah pecinta kesedihan..kebahagian dan kesedihan seperti dua sisi mata uang..jika anda tidak berbahagia maka itu berarti anda memilih untuk bersedih..maka putuskanlah sekarang juga..putuskan untuk berbahagia..
Maka cobalah sekarang perhatikan..
Tidakah keluarga yg anda miliki, teman-teman anda, kesehatan anda, adalah hal-hal kecil yang mampu menjadikan anda berbahagia.. Senyum tulus dari seorang sahabat, kasih sayang dari keluarga tidakkah mampu menjadi alasan anda untuk berbahagia.. kalau anda pernah gagal dimasa lalu, bukankah masih ada sesuatu yang bernama “KESEMPATAN” dan peluang lain..
Sekali lagi saya ingatkan..KEBAHAGIAAN ITU SEDERHANA..sesederhana namanya, dan seharusnya sederhana pula cara menggapainya..

Tinggalkan Balasan